Mengenal LEMBU
Sudah jadi kebiasaan setiap sampai dikantor, bersalaman dahulu dengan orang seruangan. Belum sempat duduk, sedang buka kunci filing cabinet, Bu KaBid dawuhi (memberi perintah) untuk ikut monev Uji Fungsi Pamsimas 2018. Monev ini teragenda mulai Desember 2018, karena kesibukan masing-masing OPD diakhir tahun maka setelah sepekan jadwal berjalan dilanjutkan diawal tahun 2019.
Setelah dapat perintah tersebut saya langsung hubungi Koordinator dan cek jadwal. Ternyata tujuannya Desa Lembu dan Wonokerto, Kecamatan Bancak. Jujur, saya baru tahu jumlah dan nama kecamatan di Kab. Semarang setelah diterima di PD sebagai tenaga penunjang , dan salah satunya itu Kecamatan Bancak.
Saya sering dengar slentingan orang kalau Desa Lembu itu wilayah yang panas, tanah tandus dan kekeringan tiap musim kemarau. Baiklah, saya bismillah saja berangkat dengan kondisi masih diare, tidak bawa PB, tidak pakai kaos kaki dan pakai sepatu flat bludru.
Koordinator menjanjikan berangkat pukul 08.30 WIB, namun jam karet yang terpakai, kami berangkat pukul 9.45 WIB.
Saya sudah diwaspadai Tim Co, "mba ojo kaget ya, ini perjalanannya jauh lho mba, butuh setengah hari, sambil bobok sek" , dan saya respon "masak mba?" dengan muka kecewa sambil mringis.
Untungnya selama perjalanan itu bisa ketawa terus sama dua bapak dan satu ibu ini. "Mba, ngerti ga disana nanti itu ada patung sapinya, kalau dia denger klakson dia kaget lho mba, kalau dia dihinggapin lalat angkat kaki ngusir lalat", kata salah satu bapak.
Saya dan si ibu cuma liat-liatan sambil ngernyitin dahi. " mosok si pak?", kalimat yang terus kami lontarkan sampai nemu jawaban. Si dua bapak terus meyakinkan.
Setelah menempuh sekitar 1 KM, barulah si ibu dan saya baru paham sambil ngakak terus dijalan. Kata kalau kuncinya.
Kami sampai di Desa Lembu pukul 11.30. Baru keluar mobil, matahari udah nyengat. Saya mbatin (ngomong dalam hati), "ini musim hujan, gimana musim kemarau?". Urutan acara sudah dipersiapkan, acara terakhir adalah kunjungan ke bak reservoir di tengah sawah. Saya bener bener ngrasain kaki saya kebakar sinar matahari (serasa dipelabuhan tanjung mas semarang - pernah kesana cuma nyari spot foto). Kaki saya merah, buru-buru balik badan nutupin kaki yang ga ketutup sepatu. Saya liat sekitar sawah, dan ternyata benar, disitu banyak sekali bebatuan di area sawah. Musim hujan itu berkah sekali untuk mereka, karena sawah mereka bisa hijau dengan tanaman padi dan jagung.
Setelah kunjungan di SR (Sambungan Rumah) dekat patung lembu (bahasa jawanya sapi) , langsunglah foto-foto bersama lembu, mumpung.. Hehe.
Saya bersyukur untuk hari ini, karena lebih menyadarkan diri saya supaya lebih bersyukur dengan apa yang saya dapat saat ini.
Komentar
Posting Komentar